MENU

Kuliah sambil kerja : Mampukah Mahasiswa Mengatur Waktu dan Tanggung Jawab?

Kuliah sambil kerja : Mampukah Mahasiswa Mengatur Waktu dan Tanggung Jawab?

...

Oleh: Melisa Dwianti

Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis

OPINI : Pagi berangkat bekerja, sore atau malam mengikuti perkuliahan, lalu pulang untuk menyelesaikan tugas yang belum selesai. Ketika sebagian mahasiswa sudah bisa beristirahat, ada mahasiswa lain yang masih harus membuka laptop, membaca materi, dan mengejar tenggat pengumpulan tugas. Bagi mahasiswa yang menjalani kuliah sambil bekerja, rutinitas seperti ini bukan sekadar cerita, melainkan tantangan yang harus dihadapi setiap hari.

Kuliah sambil bekerja bukanlah pilihan yang selalu mudah. Ada mahasiswa yang ingin membantu memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai kuliah secara mandiri, atau mendapatkan pengalaman kerja sebelum lulus. Apa pun alasannya, menjalani dua tanggung jawab sekaligus membutuhkan tenaga, pikiran, dan kemampuan mengatur waktu yang baik.

Namun, pertanyaannya adalah, mampukah mahasiswa menjalani pekerjaan dan perkuliahan secara seimbang tanpa mengorbankan salah satunya?

Menurut saya, tantangan terbesar mahasiswa yang bekerja bukan hanya banyaknya kegiatan, tetapi bagaimana menentukan prioritas di tengah waktu dan tenaga yang terbatas. Pekerjaan memiliki tanggung jawab yang harus diselesaikan, sementara kuliah juga menuntut kehadiran, pemahaman materi, dan penyelesaian tugas. Ketika keduanya datang bersamaan, mahasiswa harus mampu mengambil keputusan yang tepat.

Hal ini sejalan dengan penelitian mengenai mahasiswa Universitas Pamulang yang bekerja sambil kuliah. Penelitian yang dilakukan Revansha Maulana dan Pingkan Aprilia menunjukkan bahwa perencanaan waktu dan penentuan prioritas menjadi bagian penting dalam menjalani dua tanggung jawab tersebut. Penelitian itu juga menyoroti kesulitan mengelola stres yang masih dirasakan mahasiswa pekerja. Baca penelitian.

Dari kondisi tersebut, manajemen waktu menjadi keterampilan yang perlu dimiliki mahasiswa. Mengatur waktu bukan berarti harus membuat setiap menit dalam sehari menjadi produktif, melainkan memahami kegiatan yang perlu didahulukan dan menggunakan waktu secara realistis.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membuat jadwal mingguan. Mahasiswa dapat mencatat jadwal kerja, waktu kuliah, tenggat tugas, dan waktu istirahat. Dengan begitu, kegiatan yang berpotensi bertabrakan bisa diketahui lebih awal. Tugas kuliah pun sebaiknya dikerjakan secara bertahap, bukan menunggu sampai mendekati batas pengumpulan.

Selain itu, mahasiswa perlu belajar membedakan antara kegiatan yang penting dan kegiatan yang hanya menghabiskan waktu. Bermain media sosial atau menonton hiburan tentu tidak sepenuhnya salah, tetapi penggunaannya perlu dibatasi ketika ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Disiplin terhadap jadwal yang sudah dibuat menjadi langkah penting agar rencana tidak berhenti sebagai catatan semata.

Meski demikian, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu kondisi fisik dan mental. Mahasiswa yang bekerja sering kali merasa harus terus kuat karena memiliki banyak tanggung jawab. Padahal, kelelahan dapat memengaruhi konsentrasi, semangat belajar, dan kemampuan mengambil keputusan. Istirahat bukanlah bentuk kemalasan, melainkan kebutuhan agar seseorang tetap mampu menjalankan aktivitasnya dengan baik.

Menurut saya, keberhasilan mahasiswa yang kuliah sambil bekerja tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa sibuk mereka atau seberapa banyak kegiatan yang mampu dilakukan. Kemampuan menjaga tanggung jawab, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, mengikuti perkuliahan, dan tetap memperhatikan kesehatan juga merupakan bentuk keberhasilan.

Sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen, saya melihat bahwa persoalan ini berkaitan erat dengan penerapan ilmu manajemen dalam kehidupan sehari-hari. Selama ini, manajemen sering dipahami sebagai cara mengatur perusahaan, mengelola karyawan, atau mencapai tujuan organisasi. Padahal, prinsip manajemen juga dapat diterapkan pada diri sendiri, mulai dari merencanakan kegiatan, menentukan prioritas, melaksanakan rencana, hingga mengevaluasi hasilnya.

Walaupun demikian, tanggung jawab menjaga keseimbangan tidak seharusnya dibebankan kepada mahasiswa seorang diri. Dukungan dari lingkungan kerja, dosen, dan kampus juga memiliki peran penting. Jadwal yang dapat dikomunikasikan dengan baik, pemahaman terhadap kondisi mahasiswa pekerja, serta lingkungan yang mendukung proses belajar dapat membantu mahasiswa menjalankan kedua perannya secara lebih sehat.

Pada akhirnya, kuliah sambil bekerja memang bukan perkara membagi 24 jam menjadi beberapa bagian. Lebih dari itu, ada proses belajar untuk memahami kemampuan diri, menentukan prioritas, dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.

Mahasiswa tidak harus selalu sempurna dalam mengatur semuanya. Akan ada hari ketika pekerjaan terasa berat, tugas menumpuk, atau rencana yang sudah dibuat tidak berjalan sesuai harapan. Hal terpenting adalah mampu mengevaluasi diri dan kembali menyusun langkah yang lebih baik.

Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi juga bagaimana ia menjalani prosesnya tanpa melupakan tanggung jawab dan dirinya sendiri. Kuliah sambil bekerja dapat menjadi pengalaman berharga apabila dijalani dengan perencanaan yang baik, disiplin, serta dukungan yang memadai. Dengan demikian, pendidikan dan pekerjaan bukan harus saling mengalahkan, melainkan dapat menjadi dua jalan yang saling melengkapi untuk membangun masa depan.

Link berhasil disalin!
+