Oleh: Anita Suhaliah
Program Studi Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Pamulang (UNPAM) Serang
Opini : Menurut pendapat saya, perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan merupakan kemajuan yang sangat penting di era digital. Saya menilai bahwa AI dapat memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia, terutama dalam membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, praktis, dan efisien. Namun, saya juga berpendapat bahwa kemudahan yang ditawarkan AI tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian. Bagi saya, teknologi AI akan memberikan manfaat yang maksimal apabila digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan AI sudah dapat ditemukan melalui berbagai aplikasi, seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Canva AI. Sebagai contoh, ChatGPT dapat membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan, mencari ide, dan menyusun kerangka tulisan. Sementara itu, Canva AI dapat membantu membuat desain poster, presentasi, dan konten promosi. Menurut saya, keberadaan aplikasi tersebut sangat membantu, khususnya bagi mahasiswa yang perlu menyelesaikan berbagai tugas dalam waktu terbatas. Meskipun demikian, hasil yang diberikan AI tetap harus diperiksa kembali agar sesuai dengan fakta dan kebutuhan.
Sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen, saya melihat bahwa AI memiliki peluang besar untuk diterapkan dalam dunia bisnis. Misalnya, ketika seseorang ingin memasarkan produk makanan, AI dapat membantu menyusun ide promosi, membuat kalimat iklan, dan menentukan konsep konten media sosial. Dalam perusahaan, AI juga dapat digunakan untuk membantu menganalisis data penjualan, memahami kebutuhan konsumen, dan meningkatkan pelayanan melalui chatbot. Menurut saya, penggunaan AI dalam bidang manajemen dapat membantu pelaku usaha bekerja lebih efektif dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia. Namun, keputusan akhir tetap harus mempertimbangkan kondisi pasar, pengalaman, dan pertimbangan manusia.
Walaupun demikian, saya tidak sepenuhnya setuju apabila AI dianggap sebagai solusi untuk semua pekerjaan. Menurut pandangan saya, AI tetap memiliki keterbatasan karena informasi yang dihasilkan belum tentu benar dan terkadang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Jika seseorang terlalu bergantung pada AI, kemampuan untuk menganalisis masalah dan menghasilkan ide secara mandiri dapat berkurang. Saya berpendapat bahwa mahasiswa seharusnya tidak hanya menyalin jawaban dari AI, tetapi juga memahami materi, membandingkan informasi dengan sumber terpercaya, dan mengembangkan pendapat berdasarkan pemikirannya sendiri.
Saya juga berpendapat bahwa penggunaan AI harus disertai tanggung jawab dan kejujuran. Dalam dunia pendidikan, AI sebaiknya digunakan untuk membantu memahami materi, bukan untuk menggantikan seluruh proses belajar. Menurut saya, keberhasilan seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari seberapa cepat tugasnya selesai, tetapi juga dari seberapa baik ia memahami materi dan mampu menjelaskan hasil pekerjaannya. Oleh karena itu, penggunaan AI harus tetap memperhatikan etika akademik serta aturan yang berlaku di lingkungan pendidikan.
Di sisi lain, saya memandang perkembangan AI sebagai peluang bagi generasi muda untuk meningkatkan keterampilan dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Mahasiswa manajemen perlu mulai mempelajari pemanfaatan AI dalam pemasaran digital, perencanaan bisnis, pengolahan data, dan pelayanan pelanggan. Menurut saya, mahasiswa yang mampu menggunakan teknologi sekaligus memiliki kemampuan komunikasi, kreativitas, dan pemecahan masalah akan lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja. Oleh sebab itu, generasi muda tidak seharusnya takut terhadap perkembangan AI, tetapi perlu belajar menggunakannya secara tepat.
Berdasarkan pandangan tersebut, saya berpendapat bahwa dampak AI sangat bergantung pada cara manusia memanfaatkannya. Jika digunakan secara bijaksana, AI dapat membantu meningkatkan produktivitas, mendukung kegiatan pendidikan, dan membuka peluang usaha baru. Sebaliknya, jika digunakan tanpa pertimbangan dan pengawasan, AI dapat menimbulkan ketergantungan, penyebaran informasi yang keliru, serta masalah etika.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa teknologi AI bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan perlu dipahami dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen, saya memandang AI sebagai peluang untuk belajar, berinovasi, dan mengembangkan kemampuan dalam menghadapi persaingan di era digital. Namun, saya tetap meyakini bahwa teknologi secanggih apa pun tidak dapat sepenuhnya menggantikan pemikiran kritis, kreativitas, pengalaman, dan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu, kita perlu menjadikan AI sebagai mitra dalam berkembang, bukan sebagai satu-satunya sumber untuk menentukan tindakan dan mengambil keputusan.


