MENU

Mall of Serang, Sudahkah Menjadi Tempat Belanja dan Hiburan yang Ideal?

Mall of Serang, Sudahkah Menjadi Tempat Belanja dan Hiburan yang Ideal?

OLEH: CHIKA SELVINA 

Mahasiswa Program Studi Administrasi Negara S-1 Universitas Pamulang Kampus Serang


OPINI - Sebagai salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Serang, Mall of Serang kerap disebut-sebut sebagai kebanggaan baru warga Banten. Kehadirannya memang membawa angin segar bagi masyarakat yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh ke Tangerang atau Jakarta hanya untuk menikmati fasilitas belanja dan hiburan yang lengkap. Namun, di balik gegap gempita pembukaannya, pertanyaan yang perlu diajukan secara jujur adalah: apakah Mall of Serang benar-benar sudah menjadi tempat belanja dan hiburan yang ideal bagi masyarakat, atau baru sebatas simbol kemajuan tanpa substansi yang matang?

Sebuah Langkah Maju yang Patut Diapresiasi

Tidak bisa dimungkiri, kehadiran Mall of Serang adalah lompatan berarti bagi wajah Kota Serang. Lokasinya yang strategis, dekat dengan akses tol, membuatnya mudah dijangkau baik oleh warga lokal maupun pelintas dari luar kota. Ragam tenant fesyen, kuliner, hingga bioskop yang tersedia di dalamnya memberi pilihan hiburan yang selama ini sulit ditemukan di Serang. Bagi keluarga muda, pelajar, maupun pekerja kantoran, mal ini menjadi ruang publik alternatif untuk bersosialisasi, bukan sekadar tempat bertransaksi.

Namun, Idealitas Itu Belum Sepenuhnya Tercapai

Sayangnya, semangat itu belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas pengalaman yang konsisten. Di akhir pekan atau musim liburan, area parkir dan pintu masuk kerap dipadati pengunjung, menimbulkan antrean panjang yang mengurangi kenyamanan berbelanja. Variasi tenant pun masih terasa terbatas dibandingkan pusat perbelanjaan sekelas di kota-kota besar, sehingga sebagian pengunjung merasa pilihan yang tersedia belum cukup beragam untuk memenuhi ekspektasi gaya hidup modern.

Selain itu, sebagai ruang publik yang menyandang predikat pusat hiburan, Mall of Serang semestinya tidak berhenti pada fungsi komersial semata. Idealnya, sebuah pusat perbelanjaan modern juga menghadirkan ruang komunitas, program budaya lokal, ataupun kegiatan rutin yang melibatkan masyarakat Banten secara lebih luas. Tanpa unsur ini, mal berisiko hanya menjadi etalase konsumsi, bukan ruang yang benar-benar merepresentasikan identitas dan kebutuhan warganya.

Menimbang Dua Sisi

Adil rasanya jika kita menempatkan Mall of Serang bukan sebagai kegagalan maupun kesempurnaan, melainkan sebagai sebuah proses yang masih berjalan. Ia telah berhasil menjawab kebutuhan dasar warga akan ruang belanja dan hiburan yang layak, namun belum sepenuhnya menjelma menjadi destinasi yang benar-benar ideal seperti yang dibayangkan banyak orang saat pertama kali mendengar kabar pembangunannya. Perbaikan pada aspek kapasitas, keberagaman tenant, dan program berbasis komunitas akan menjadi penentu apakah mal ini kelak benar-benar layak disebut ideal, atau sekadar menjadi pusat perbelanjaan biasa dengan label besar.

Pada akhirnya, opini publik tentang idealitas sebuah mal tidak lahir dari peresmian yang meriah, melainkan dari pengalaman berulang para pengunjungnya. Mall of Serang punya modal awal yang kuat: lokasi strategis dan ambisi menjadi ikon baru Kota Serang. Namun, untuk benar-benar layak disebut ideal, pengelola perlu terus mendengarkan masukan masyarakat dan berani berbenah. Sebab, pada akhirnya, sebuah mal yang ideal bukan hanya dinilai dari kemegahan bangunannya, melainkan dari seberapa nyaman dan bermakna ia dirasakan oleh warga yang setiap hari menjadikannya bagian dari keseharian mereka.

Link berhasil disalin!
+