MENU

LUNTURNYA NILAI PANCASILA DI ERA MODERN Pancasila Bukan Sekadar Dasar Negara, Melainkan Pedoman Hidup Bangsa Indonesia

LUNTURNYA NILAI PANCASILA DI ERA MODERN  Pancasila Bukan Sekadar Dasar Negara, Melainkan Pedoman Hidup Bangsa Indonesia

Oleh: 

Fakultas: Ilmu Hukum Unpam Serang

Dosen pengampu: Ibu Siti Maspupah S.H., M.H.


Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus globalisasi, Indonesia sedang menghadapi tantangan besar yang sering kali tidak disadari: semakin lunturnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila yang selama ini menjadi dasar negara dan pandangan hidup bangsa tampaknya mulai kehilangan tempat dalam praktik kehidupan masyarakat, terutama di kalangan generasi muda. Padahal, Pancasila bukan sekadar simbol negara atau materi pelajaran di sekolah, melainkan pedoman hidup yang seharusnya menjadi arah dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.


Menurut saya, lunturnya nilai Pancasila bukan terjadi karena masyarakat tidak mengenalnya, melainkan karena nilai-nilai tersebut mulai kurang diterapkan dalam kehidupan nyata. Banyak orang hafal lima sila Pancasila, tetapi belum tentu benar-benar mengamalkannya. Di era modern ini, perubahan sosial berjalan sangat cepat sehingga masyarakat terkadang lebih mudah terpengaruh oleh budaya luar dibandingkan mempertahankan karakter bangsa sendiri.


Kemajuan teknologi memang memberikan banyak manfaat. Internet mempermudah akses informasi, media sosial mempercepat komunikasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan membuka peluang baru dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, di balik semua kemudahan itu, muncul berbagai persoalan sosial yang memperlihatkan gejala melemahnya nilai Pancasila.


Salah satu contoh yang paling terlihat adalah menurunnya sikap toleransi di tengah masyarakat. Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa. Akan tetapi, masih sering muncul tindakan intoleransi, diskriminasi, bahkan konflik akibat perbedaan keyakinan dan pandangan. Menurut saya, kondisi ini cukup memprihatinkan karena bertentangan dengan semangat persatuan yang menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia. Jika masyarakat semakin sulit menerima perbedaan, maka persatuan nasional dapat terancam.


Selain itu, sikap individualisme juga semakin berkembang di era modern. Kemajuan teknologi membuat banyak orang lebih sibuk dengan dunia pribadi melalui gawai dan media sosial dibandingkan membangun interaksi sosial secara langsung. Tidak sedikit orang yang lebih peduli pada urusan pribadi daripada lingkungan sekitar. Akibatnya, budaya gotong royong yang dulu menjadi identitas bangsa perlahan mulai berkurang. Padahal, semangat kebersamaan adalah salah satu nilai penting yang selama ini menjaga keharmonisan masyarakat Indonesia.


Media sosial juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga nilai kemanusiaan. Saat ini, ujaran kebencian, perundungan digital, dan penyebaran hoaks semakin mudah ditemukan. Banyak orang merasa bebas memberikan komentar tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai kehilangan sikap saling menghargai dan menghormati sesama. Padahal, nilai kemanusiaan dalam Pancasila mengajarkan pentingnya menghormati martabat manusia.


Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah berkurangnya semangat musyawarah. Dalam kehidupan modern, banyak individu lebih memilih memaksakan pendapat daripada mencari jalan tengah melalui diskusi bersama. Perbedaan pandangan, terutama di media sosial, sering berubah menjadi konflik yang tidak sehat. Padahal, budaya musyawarah merupakan ciri demokrasi Indonesia yang mengutamakan kebersamaan dalam mengambil keputusan.


Menurut saya, lunturnya nilai Pancasila juga dipengaruhi oleh kurangnya pendidikan karakter dan minimnya keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan tentang Pancasila sering kali hanya berfokus pada teori, bukan penerapan nyata. Akibatnya, generasi muda memahami Pancasila hanya sebagai hafalan, bukan sebagai nilai yang harus dijalankan.


Namun, saya percaya bahwa kondisi ini masih bisa diperbaiki. Menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Generasi muda perlu diajak untuk lebih bijak menggunakan teknologi, menghormati perbedaan, aktif dalam kegiatan sosial, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air. Menggunakan media sosial untuk hal positif, membantu sesama, menjaga toleransi, dan menghargai budaya lokal adalah bentuk sederhana tetapi nyata dalam mengamalkan Pancasila.


Selain itu, penting juga untuk menumbuhkan kembali budaya gotong royong yang mulai memudar. Kegiatan sosial di lingkungan masyarakat dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga sekaligus menghidupkan nilai persatuan. Bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan identitas hanya karena terlalu terbawa arus modernisasi.


Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan nilai-nilai Pancasila. Justru di era modern seperti sekarang, Pancasila semakin relevan sebagai pedoman moral dalam menghadapi berbagai tantangan sosial. Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang unggul dalam teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga nilai, budaya, dan persatuannya.


Karena itu, menjaga Pancasila bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga pendidikan, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia. Jika nilai-nilai Pancasila terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang kuat, berkarakter, dan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Link berhasil disalin!
+