MENU

Utang Rp24 Triliun, Sritex Tumbang Apa yang Salah dengan Strategi Sang Raja Tekstil?

Utang Rp24 Triliun, Sritex Tumbang Apa yang Salah dengan Strategi Sang Raja Tekstil?

Istimewa

Oleh : Sultan Syahriel
Prodi : Manajemen
Universitas Pamulang Kampus Serang


OPINI - Perusahaan besar belum tentu kebal dari kebangkrutan. Sritex yang pernah memproduksi seragam militer untuk NATO dan Tentara Jerman kini menjadi contoh bahwa nama besar saja tidak cukup untuk menyelamatkan bisnis.

PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex pernah menjadi kebanggaan industri tekstil Indonesia. Berdiri sejak 1966, perusahaan ini berhasil menembus pasar internasional dan melewati krisis moneter 1998. Namun, perjalanan panjang itu berakhir setelah Sritex menghentikan operasionalnya pada 1 Maret 2025, di tengah persoalan utang yang diberitakan mencapai sekitar Rp24 triliun.

Lantas, bagaimana perusahaan sebesar Sritex bisa tumbang?

Salah satu hal yang perlu dilihat adalah manajemen strategi. Sederhananya, manajemen strategi merupakan cara perusahaan menentukan tujuan, membaca masalah, dan memilih langkah agar bisnis tetap berjalan. Bukan hanya memikirkan keuntungan hari ini, tetapi juga menyiapkan diri menghadapi masalah yang mungkin muncul besok.

Dalam kasus Sritex, persoalan ini menjadi pengingat bahwa perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan nama besar dan pengalaman. Keuangan yang tidak sehat, kewajiban yang menumpuk, serta keputusan bisnis yang kurang tepat dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan usaha. Meski begitu, penyebab kejatuhan Sritex tidak bisa disimpulkan hanya dari satu faktor.

Utang Menumpuk, Strategi Harus Bergerak

Dalam dunia bisnis, kesulitan keuangan atau financial distress terjadi ketika perusahaan mulai kesulitan memenuhi kewajibannya. Tandanya bisa terlihat dari arus kas yang menipis, penjualan yang menurun, hingga ketidakmampuan membayar utang tepat waktu.

Jika kondisi ini dibiarkan, perusahaan bisa kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan usahanya. Karena itu, manajemen perlu mengambil langkah sebelum masalah semakin besar, mulai dari mengendalikan pengeluaran, mengevaluasi kegiatan usaha, hingga menata kembali kewajiban keuangan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan “bahwa pemerintah akan mengambil langkah untuk menyelamatkan pekerja Sritex.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan perusahaan besar tidak berhenti di ruang direksi, tetapi juga menyangkut nasib para pekerja dan keluarganya.

Jangan Tunggu Perusahaan Hampir Tumbang

Salah satu strategi yang dapat dilakukan ketika perusahaan mengalami kemunduran adalah corporate turnaround strategy, yaitu upaya memulihkan kondisi perusahaan agar kembali sehat. Caranya bukan sekadar memangkas biaya, melainkan mencari sumber masalah dan memperbaikinya.

Perusahaan perlu memeriksa kondisi keuangan, menilai kembali strategi penjualan, memperbaiki cara kerja manajemen, dan memastikan setiap keputusan sesuai dengan kemampuan perusahaan. Jika tanda-tanda krisis muncul, langkah penyelamatan harus segera disiapkan.

Kisah Sritex menjadi pelajaran bagi dunia usaha bahwa perusahaan besar pun bisa jatuh ketika masalah tidak tertangani dengan baik. Bisnis bukan hanya soal seberapa tinggi perusahaan bisa terbang, tetapi juga seberapa kuat perusahaan bertahan saat menghadapi badai.

Link berhasil disalin!
+