Oleh : Zuhrotul Aqlabiyah
Mahasiswa Universitas Pamulang prodi manajemen
Nim : 241090501681
OPINI - Sebagai mahasiswa, kita berada di fase transisi yang unik menuntut ilmu, mencari jati diri, dan mulai belajar mengelola hidup mandiri. Namun, realitas hari ini memperlihatkan bahwa ruang kelas bukan lagi satu-satunya tempat kompetisi. Kompetisi sesungguhnya telah bergeser ke layar gawai sebuah arena pamer bertajuk media sosial. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) bukan lagi sekadar kecemasan psikologis biasa, melainkan telah menjelma menjadi sebuah gaya hidup konsumtif yang mematikan.
Fakta di lapangan menunjukkan data yang sangat mengkhawatirkan.
Berdasarkan survei dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebanyak 69,4% mahasiswa di Indonesia mengaku pernah menggunakan layanan keuangan digital seperti PayLater untuk memenuhi kebutuhan non-prioritas. Hal ini memvalidasi bahwa pengeluaran terbesar sebagian mahasiswa hari ini bukan didorong oleh kebutuhan akademik, melainkan oleh faktor emosional seperti FOMO dan impulsive buying.
Secara makro, data demografi OJK menunjukkan bahwa kelompok usia 18–25 tahun menyumbang 26,5% dari total pengguna PayLater di Indonesia. OJK mencatat tren doom spending (belanja ugal-ugalan saat stres) dan FOMO menjadi pemicu utama mengapa generasi muda gemar berutang. Di mana secara umum, fasilitas ini paling banyak digunakan untuk menopang kebutuhan gaya hidup, seperti fesyen 66,4% dan elektronik 41%. Data-data ini secara nyata membuktikan hubungan kausalitas yang mengkhawatirkan: tingginya tingkat FOMO pada usia muda berbanding lurus dengan meningkatnya jeratan utang digital.
Data-data di atas secara nyata membuktikan hubungan kausalitas yang mengerikan: Tingginya tingkat FOMO pada mahasiswa berbanding lurus dengan meningkatnya minat berutang secara digital. Kita tidak lagi membeli barang karena mampu, melainkan karena ada fitur "beli sekarang, bayar nanti" yang sebenarnya adalah jebakan masa depan.
Menurut Erik Erikson, usia mahasiswa (18–25 tahun) berada pada tahap Identity vs. Role Confusion (Pencarian Identitas vs. Kebingungan Peran). Pada tahap ini, individu sangat sensitif terhadap bagaimana mereka dipandang oleh kelompok sebayanya (peer group). Salah satu pemicu psikologis ini karena, Validasi Kuantitatif Di era digital, harga diri (self-esteem) seorang mahasiswa sering kali mengalami distorsi. Nilai diri tidak lagi diukur dari pencapaian riil, melainkan dari indikator kuantitatif yang semu: jumlah likes, views, komentar, atau pengakuan "Menyala, Abangku!" di media sosial. Selain itu Membeli barang bermerek atau mengunjungi tempat yang sedang viral menjadi cara instan untuk membangun identitas visual bahwa mereka adalah bagian dari kelas sosial yang "sukses" dan "keren", meskipun identitas tersebut rapuh dan dibangun di atas utang
Ketika finansial seorang mahasiswa "padam", dampaknya tidak berhenti pada dompet yang kosong. Beban tagihan yang menumpuk melahirkan stres akademik, kecemasan mental, hingga kasus ekstrem di mana mahasiswa harus putus kuliah atau terjerat hukum akibat gagal bayar pinjol ilegal.
Lebih buruk lagi, kita sedang merusak skor kredit kita sendiri di masa depan (melalui SLIK OJK atau BI Checking). Catatan utang macet yang kita buat hari ini demi terlihat "menyala" di masa kuliah bisa menjadi batu sandungan besar saat kita lulus nanti—mulai dari kesulitan mencari pekerjaan hingga ditolaknya pengajuan KPR di masa depan.
Perusahaan teknologi dan penyedia pinjaman digital memahami betul celah psikologis ini. Mereka membungkus produk konsumtif dengan narasi "kebebasan ekspresi" dan "penghargaan diri," sementara fitur PayLater menghilangkan rasa sakit saat membayar (pain of paying) secara psikologis.
Bagi mahasiswa, memutus rantai FOMO bukan sekadar masalah mengatur uang, melainkan sebuah perjuangan psikologis untuk berdamai dengan diri sendiri, menerima realitas finansial tanpa rasa minder, dan berani mendefinisikan nilai diri di luar validasi digital
sudah saatnya kita mendekonstruksi makna kata "menyala". Menyala yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa mahal kopi yang kita minum atau seberapa estetik feeds Instagram kita. Menyala yang sesungguhnya adalah ketika kita memiliki kecerdasan finansial untuk berkata "tidak" pada tren yang tidak mampu kita beli.
Kita harus berani beralih dari FOMO menuju JOMO (Joy of Missing Out)—merasa tenang dan bangga meskipun absen dari lingkaran konsumerisme semu. Menjadi biasa saja di media sosial dengan tabungan dan masa depan yang aman jauh lebih terhormat daripada memamerkan kemewahan palsu hasil dari berutang. Jangan biarkan ego sesaat demi pujian virtual memadamkan masa depan nyata yang sedang kita bangun.


