MENU

Tembus Pengalaman Internasional, Dua Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN SMH Banten Praktik Mengajar di Thailand

Tembus Pengalaman Internasional, Dua Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN SMH Banten Praktik Mengajar di Thailand

PATTANI, THAILAND — Pengalaman mengajar di negeri orang menjadi cerita berharga bagi dua mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten, Tri Ulvia Hasanah dan Raihan Sarideh.

Keduanya mendapat kesempatan mengikuti praktik mengajar internasional di Pattana Islam School, Pattani, Thailand, melalui Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Integratif. Program tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus mengenal secara langsung sistem pendidikan, karakter peserta didik, serta kehidupan sosial dan budaya di Thailand. Minggu, 13/09/2026

Mengajar di depan kelas dengan latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda tentu menghadirkan pengalaman tersendiri. Tri Ulvia Hasanah dan Raihan Sarideh tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi bahasa Inggris, tetapi juga harus beradaptasi dengan karakter siswa, lingkungan sekolah, serta perbedaan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.


Perbedaan kemampuan bahasa Inggris siswa menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk memilih metode pembelajaran yang lebih komunikatif dan menyenangkan agar materi dapat diterima dengan baik oleh para siswa.

Salah satu mahasiswa mengaku tetap percaya diri menjalani proses mengajar tersebut karena bekal ilmu yang diperoleh selama perkuliahan. Menurutnya, pengalaman mengajar di Thailand menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun kepercayaan diri sebagai calon pendidik.

“Saya merasa cukup percaya diri untuk mengajar di Thailand karena saya dapat mengembangkan ilmu dan pengalaman yang saya peroleh selama perkuliahan. Melalui pengalaman ini, saya juga berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar siswa lebih tertarik dan menyukai bahasa Inggris. Bagi saya, ketika siswa mulai menikmati proses belajar dan berani berinteraksi menggunakan bahasa Inggris, itu menjadi pengalaman yang sangat berarti,” ujarnya.

Kehadiran mahasiswa dari Indonesia juga mendapat respons positif dari para siswa di Pattana Islam School. Interaksi yang terbangun selama proses pembelajaran tidak hanya menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengajar, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengalaman dan budaya antara Indonesia dan Thailand.

Bagi Tri Ulvia Hasanah dan Raihan Sarideh, pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa menjadi seorang guru tidak cukup hanya dengan menguasai materi pelajaran. Seorang pendidik juga harus mampu membaca kondisi kelas, memahami karakter siswa, membangun komunikasi yang baik, serta menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.

Selain kegiatan mengajar, keduanya juga memperoleh kesempatan untuk mengenal kehidupan masyarakat Pattani secara lebih dekat. Perbedaan budaya yang sebelumnya terasa asing justru menjadi pengalaman baru yang memperluas wawasan mengenai keberagaman masyarakat di kawasan Asia Tenggara.


Praktik mengajar internasional tersebut menjadi pengalaman penting dalam perjalanan akademik mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN SMH Banten. Teori yang selama ini dipelajari di ruang perkuliahan dapat diuji dan diterapkan secara langsung dalam lingkungan pendidikan yang memiliki karakteristik berbeda.

Pengalaman berada di ruang kelas Thailand juga menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia pendidikan yang semakin terbuka dan membutuhkan kemampuan beradaptasi. Kompetensi berkomunikasi lintas budaya, membangun kepercayaan diri, serta menghadapi berbagai karakter peserta didik menjadi bagian penting dalam membentuk profesionalisme calon guru.

Pada akhirnya, perjalanan Tri Ulvia Hasanah dan Raihan Sarideh ke Pattani bukan sekadar membawa ilmu dari Indonesia ke ruang kelas di Thailand. Mereka juga membawa pulang pelajaran berharga dari para siswa, guru, dan lingkungan pendidikan yang mereka temui.

Dari ruang kelas di Pattani, keduanya belajar bahwa menjadi seorang guru berarti harus terus belajar—memahami peserta didik, menghadapi perbedaan, beradaptasi dengan lingkungan, dan berani keluar dari zona nyaman.

Pengalaman internasional tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa kesempatan belajar bagi mahasiswa tidak selalu terbatas di ruang kelas kampus. Ketika ilmu dipadukan dengan keberanian untuk mencoba, pengalaman mengajar di negeri orang dapat menjadi langkah penting menuju lahirnya pendidik yang lebih percaya diri, adaptif, dan berwawasan global.


Link berhasil disalin!
+